Loading...

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

MEMBUKA SELUAS-LUASNYA KEPADA SEMUA BLOGGER UNTUK BERPARTISIPASI

Cari Blog Ini

Memuat...

Laman

Total Tayangan Laman

Kamis, 26 Februari 2009

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN
Oleh : Nur Afifuddin

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setiap akan melakukan proses pembelajaran, seorang pengajar akan menyiapkan sebuah desain pembelajaran. Diantara pengajar itu ada yang mempersiapkan seluruh kegiatan pembelajarannya secara khusus jauh sebelum memulainya dan ada pula yang membuat persiapannya untuk setiap kali proses pembelajarannya. Kelompok pengajar yang lain merasa tidak perlu membuat persiapan apapun sebelum memulai proses pembelajaran.
Kelompok yang terakhir di atas langsung mengajar karena merasa telah dapat mengajar dengan baik apabila mengetahui topik yang akan diajarkan untuk setiap kali pertemuan. Setiap pengajar baik yang membuat persiapan maupun tidak, selalu mencari cara untuk melaksanakan kegiatan instruksionalnya dengan sebaik-baiknya. Demikian pula setiap pengelola program pendidikan dan latihan senantiasa mencari jalan meningkatkan programnya melalui cara yang dianggapnya baik.
Setiap pengajar yang membuat persiapan dalam proses pembelajaran selalu diawali dengan membuat tujuan instruksional umum (TIU). Tetapi ada pula pengembang instruksional termasuk pengajar melompat dari TIU ke TIK, tes, atau isi pelajaran tanpa melalui analisis instruksional (analisis pembelajaran) sehingga menghasilkan kegiatan instruksional yang tidak sistematis.
Implikasi proses pengembangan instruksional yang melompat antara lain yaitu daftar TIK yang telah disusun tidak konsisten dengan TIU-nya seperti kurang lengkap atau berlebihan, materi tes tidak terperinci, urutan isi pelajaran kurang sistematis, titik berangkat materi pelajaran tidak sesuai dengan kemampuan awal peserta didik, dan cara penyajiannya tidak sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Berdasarkan TIK yang telah disusun, pengembang instruksional dapat menyusun tes yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menguasai perilaku-perilaku yang ditetapkan dalam TIK.
B. Rumusan Masalah
Dari uaraian latar belakang di atas, maka timbul permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah pengertian Tes Acuan Patokan ?
2. Apakah pengertian Tes Acuan Norma ?
3. Apakah persamaan dan perbedaan antara Tes Acuan Patokan dan Tes Acuan Norma ?
4. Bagaimanakan prosedur penyusunan Tes Acuan Patokan ?
5. Bagaimanakah cara menggunakan Tes Acuan Patokan ?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tes Acuan Patokan
Butir tes yang mengacu kepada tujuan instruksional atau dengan perkataan lain untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap perilaku yang terdapat dalam TIK disebut Tes Acuan Patokan (Atwi Suparman, M. 2001 : 144). Skor yang diperoleh oleh siswa dalam tes tersebut ditafsirkan sebagai tingkat penguasaannya terhadap perilaku yang diukurnya. Cara menafsirkan hasil tes pacuan patokan yang didasarkan atas persentase skor yang dicapai siswa yang dibandingkan dengan skor maksimum itu merupakan hal yang harus digarisbawahi, berapa persen siswa itu menguasai perilkau tersebut atau dengan perkataan lain seberapa tinggi tingkat penguasaan siswa tertentu terhadap perilaku yang terdapat dalam TIK tersebut.
Skor yang dicapai setiap siswa ditafsirkan dengan cara yang sama, yaitu membandingkan dengan skor maksimum yang mungkin dicapai siswa untuk perilaku yang terdapat dalam TIK. Dengan demikian, penafsiran dari hasil tes tersebut mencerminkan tingkat penguasaan siswa terhadap perilaku-perilaku yang terdapat dalam TIK. Cara menafsirkan hasil tes seperti ini disebut penafsiran acuan patokan sebagai terjemahan dari criterion-referenced interpretation. Bila tes yang digunakan berupa tes acuan patokan, penafsiran hasil tes tersebut haruslah dengan cara penafsiran acuan patokan.

B. Pengertian Tes Acuan Norma
Tes ini disusun untuk menentukan kedudukan atau posisi seseorang peserta tes diantara kelompoknya, bukan untuk menentukan tingkat penguasaan setiap peserta tes terhadap perilaku yang ada dalam TIK. Yang dimaksud dengan kelompoknya di sini adalah kelompok siswa dalam kelas, sekolah, propinsi, atau nasional.
Karena maksud tes ini untuk menentukan kedudukan seseorang diantara kelompoknya, tes yang harus disusun adalah tes yang dapat membedakan antara peserta yang satu dengan yang lain, antara peserta yang lebih pandai dengan peserta yang kurang pandai. Untuk menyusun tes seperti itu, perlu dipilih butir tes yang mempunyai daya pembeda tertentu, yaitu butir tes yang hanya bisa dijawab dengan benar oleh seluruh atau sebagian besar siswa yang lebih pandai dan tidak ada atau hanya sebagian kecil oleh siswa yang kurang pandai. Karena itu, apabila dalam uji coba ternyata seluruh siswa salah atau seluruh siswa benar untuk suatu butir tes, butir tes tersebut harus direvisi atau harus dibuang. Butir tes tersebut tidak dapat membedakan siswa yang lebih pandai dengan siswa yang kurang pandai. Demikian pula suatu butir tes dikatakan tidak mempunyai daya pembeda bila butir tes tersebut dapat dijawab oleh sejumlah siswa dari golongan yang pandai dan golongan kurang pandai dengan sama banyak, atau oleh siswa dari golongan pandai jumlahnya lebih sedikit dari siswa golongan kurang pandai.
Di samping harus mempunyai daya pembeda, butir tes acuan norma harus pula mempunyai tingkat kesulitan. Bila sebagian besar, misalnya 90% atau seluruh siswa dapat menjawab dengan benar dalam suatu butir tes, butir tes tersebut dianggap terlalu mudah. Keputusan yang diambil oleh penyusun tes acuan norma adalah mengubah atau membuang butir tes tersebut. Demikian pula jika suatu butir tes tidak dapat dijawab dengan benar oleh sebagian besar, misalnya 90% atau seluruh siswa, maka butir tes tersebut dianggap terlalu sulit. Hanya butir tes yang dapat dijawab dengan benar oleh 20-80% siswa yang disebut mempunyai tingkat kesulitan dapat diterima oleh penyusun tes acuan norma.
Pengukuran daya pembeda dan tingkat kesulitan butir tes harus dilakukan dalam uji coba sebelum digunakan di lapangan sesungguhnya. Siswa yang digunakan dalam uji coba harus setara dengan siswa yang akan mengikuti tes sesungguhnya.
Menyusun tes acuan norma lebih sulit daripada tes acuan patokan, karena tidak semua butir tes acuan patokan dapat digunakan dalam tes acuan norma. Walaupun suatu butir tes sangat relevan dengan TIK tertentu, bila ternyata dalam uji coba tergolong terlalu mudah, terlalu sulit atau tergolong mempunyai daya pembeda terlalu rendah, butir tes tersebut tidak dapat digunakan dalam tes acuan norma.
Maksud penyusunan tes acuan norma adalah menunjukkan kedudukan seorang peserta tes di antara kelompoknya, apakah peserta tersebut tergolong lebih pandai atau kurang pandai dibandingkan dengan rata-rata kelompok tersebut. Ataukah ia termasuk golongan sedang karena seharusnya tidak jauh di atas atau sedikit di bawah kelompoknya.
Di antara kedua jenis tes dan dua cara penafsiran yang telah dijelaskan di atas, tidak berarti yang satu lebih baik dari yang lain. Setiap tes tersebut tepat untuk tujuan masing-masing. Tes acuan patokan dan cara interpretasinya tepat untuk digunakan memberikan nilai yang menunjukkan penguasaan siswa dalam mata pelajaran tertentu. Tes dan cara interpretasi tersebut digunakan untuk memberi nilai dalam rapor, ijazah, dan nilai kemajuan siswa dalam setiap tahap pelajaran. Tes acuaan norma dan cara penafsirannya tepat digunakan untuk menentukan prestasi siswa diantara kelompoknya, misalnya dalam seleksi penerimaan pegawai yang akan memilih beberapa orang terbaik diantara beberapa ratus pelamar, dsb.

C. Persamaan dan perbedaan antara Tes Acuan Patokan dan Tes Acuan Norma
Gronlund dalam Atwi Suparman, M (2001 : 179) mengemukakan persamaan dan perbedaan dari tes acuan patokan dan tes acuan norma.
1. Persamaan antara Tes Acuan Patokan dan Tes Acuan Norma
a. Keduanya mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur
b. Keduanya disusun dari sampel butir-butir tes yang relevan dan representatif
c. Keduanya menggunakam macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes ketrampilan
d. Keduanya menggunakan ketentuan yang sama dalam menulis butir tes, kecuali untuk kesulitan tes. Ini berarti keduanya sama-sama membutuhkan kalibrasi daya pembeda dan analisis option
e. Keduanya dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya
f. Keduanya digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.
2. Perbedaan antara Tes Acuan Patokan dan Tes Acuan Norma
No
Tes Acuan Norma
Tes Acuan Patokan
1
Mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku
Mengukur perilaku khusus dalam jumlah terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku
2
Menekankan perbedaan diantara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif
Menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes
3
Lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan yang terlalu sulit
Mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa peduli dengan tingkat kesulitannya
4
Digunakan terutama (tetapi tidak khusus) untuk tes survai
Digunakan terutama (tetapi tidak khusus) untuk tes penguasaan
5
Penafsiran hasil tes membutuhkan pendefinisian kelompok secara jelas
Penafsiran hasil tes membutuhkan pendefinisian perilaku yang diukur secara jelas dan terbatas.

D. Prosedur penyusunan Tes Acuan Patokan
Untuk menyusun tes acuan patokan pengembang instruksional perlu melakukan langkah-langkah seperti berikut :
1. Langkah pertama, menentukan maksud tes
Tes yang akan disusun oleh pengembang instruksional akan digunakan untuk dua maksud sebagai berikut :
a. Memberikan umpan balik bagi siswa tentang hasil belajar siswa tiap tahap proses belajarnya. Perlu disusun tes acuan patokan untuk mengukur pencapaian siswa setiap perilaku yang terdapat dalam TIK. Tes ini berfungsi sebagai tes formatif. Hasil tes dapat dijadikan petunjuk tentang kesulitan siswa dalam bagian-bagian tertentu dari bahan instruksional yang digunakan.
b. Menilai efektivitas sistem instruksional secara keseluruhan. Pengembang instruksional perlu menyusun tes acuan patokan yang dapat mengukur hasil belajar siswa dalam menguasai seluruh perilkau dalam TIU dan sampel perilaku dalam TIK. Tes ini digunakan sebagai tes awal dan tes akhir dalam uji coba sistem instruksional yang dikembangkan
2. Langkah kedua, Menyusun tabel spesifikasi
Tabel spesifikasi terdiri dari empat kolom, yaitu daftar perilaku, bobot perilaku, prosentase jenis tes, dan jumlah butir tes.
3. Langkah ketiga, menulis butir tes
Berdasarkan daftar spesifikasi yang telah disusun, pendesain instruksional mulai menulis butir-butir tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis setiap butir tes adalah :
a. Macam dan jumlah tes sesuai dengan tabel spesifikasi
b. Menggunakan komponen kondisi dalam TIK sebagai dasar dalam menyusun pertanyaan
c. Setiap selesai menulis satu butir tes, mengadakan koreksi apabila siswa dapat menjawab pertanyaan atau melakukan perilaku yang dikehendaki oleh butir tes dengan benar, apakah siswa berarti telah mampu melakukan atau menguasai perilaku aeperti yang tercantum dalam TIK ? Bila jawabnya ragu-ragu maka butir tes harus direvisi. Hal ini perlu dilakukan karena merupakan kunci validitas isi suatu tes.
d. Perhatikan kesesuaian butir tes dengan TIK.
Setelah selesai menulis seluruh butir tes, pendesain instruksional harus memeriksa kembali apakah bobot tes atau kelompok butir tes itu telah sesuai dengan bobot presentase yang ditentukan dalam tabel spesifikasi.
4. Langkah keempat, merakit tes
Butir tes yang telah selesai ditulis dikelompokkan atas dasar jenis kemudian diberi nomor urut 1 sampai seterusnya.
5. Langkah kelima, menulis petunjuk
Setiap jenis tes diberi petunjuk untuk siswa tentang menuliskan jawabannya. Siswa juga diberi petunjuk tentang waktu yang diperlukan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh tes tersebut. Petunjuk harus sederhana, singkat tetapi jelas.
6. Langkah keenam, menulis kunci jawaban
Kunci jawaban untuk setiap butir tes perlu dipersiapkan untuk digunakan pemberi skor atau orang yang memeriksa dan menilai hasil jawaban siswa. Kunci jawaban menunjukkan dua hal, yaitu jawaban yang benar dan cara pemberian skor untuk setiap butir tes.
7. Langkah ketujuh, mengujicobakan tes
Tes perlu diujicobakan untuk melihat beberapa hal penting berikut lnl :
a. Kualitas setiap butir tes
b. Kejelasan dan kesederhanaan petunjuk cara menjawab
c. Kemudahan siswa memahami setiap pertanyaan
d. Kelengkapan alat-alat yang perlu dibawa siswa misalnya kalkulator, tabel, pensil, dan alat tulis lainnya.
e. Kesesuaian waktu yang dibutuhkan siswa dengan yang ditetapkan dalam tes tersebut.
f. Kejelasan dan kebersihan pengetikan
8. Langkah kedelapan, menganalisis hasil uji coba
Hasil uji coba tes dapat diolah dalam dua bagian penting, yaitu :
a. Kualitas setiap butir tes
b. Kualitas teknik penulisan dan kualitas fisik
9. Langkah kesembilan, merevisi tes.
Tes yang telah diujicobakan direvisi seperlunya menurut hasil uji coba. Apabila revisi tes itu secara keseluruhan cukup besar, sebaiknya tes baru tersebut diujicobakan lagi.
E. Menggunakan Tes Acuan Patokan
Penyusunan tes digunakan dalam tiga hal sebagai berikut :
1. Mengukur tingkat pencapaian siswa setelah menyelesaikan seluruh proses instruksional untuk suatu mata pelajaran atau kursus. Tes itu disebut tes akhir (post test)
2. Mengukur tingkat penguasaan siswa sebelum dimulai proses instruksional. Tes ini disebut tes awal (pretest)
3. Mengetahui kemajuan siswa selama proses instruksional. Dengan mengetahui kemajuan siswa, pengajar diharapkan dapat mengambil keputusan untuk terus mengajarkan bagian selanjutnya atau harus mengulang dulu bagian yang baru lalu, karena bagian ini belum dikuasai siswa. Keputusan ini sangat penting artinya terutama bila pengajar sedang mengajarkan perilaku prasyarat. Pelaksanaan tes penting bagi siswa sebagai umpan balik atas kemajuan yang telah dibuatnya setiap selesai mempelajari suatu bagian pelajaran Tes ini disebut tes formatif.

BAB III
SIMPULAN

Dalam proses pengembangan desain instruksional, salah satu tahapan adalah mengmbangkan instrumen penilaian atau menyusun tes. Tes yang disusun adalah tes yang mengukur tingkat pencapaian siswa terhadap perilaku yang terdapat dalam tujuan instruksional. Tes tersebut mungkin tidak dapat mengukur penguasaan siswa terhadap seluruh uraian pengajar dalam proses instruksional, sebab apa yang diberikan pengajar selama proses tersebut belum tentu seluruhnya relevan dengan tujuan instruksional. Isi pelajaran bukanlah kriteria untuk mengukur keberhasilan proses pelaksanaan instruksional. Ia bagian dari proses itu dan termasuk harus diuji relevansinya dengan tujuan instruksional.
Dalam menyusun tes ada dua macam patokan yaitu tes acuan norma dan tes acuan patokan. Tes acuan patokan disusun melalui beberapa langkah. Langkah kelima adalah menulis tes acuan patokan dengan menggunakan tabel spesifikasi atau kisi-kisi sederhana. Tabeel tersebut tidak menggunakan taksonomi tujuan instruksional seperti pada umumnya, karena menggunakan tabel seperi itu dirasakan terlalu sulit bagi seorang pengajar biasa yang bukan ahli pengembangan tes. Disamping itu, penggunaan tabel yang sederhana dapat memenuhi kebutuhan seorang pengajar untuk menyusun tes yang konsisten dengan tujuan instruksional, baik yang bersifat kognitif, psikomotor, maupun afektif. Tes yang telah dikembangkan digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa dalam setiap bagian pelajaran atau seluruh mata pelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Atwi Suparman, M. 2001. Desain Instruksional. Jakarta : PAU-PPAI-UT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar