Loading...

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

MEMBUKA SELUAS-LUASNYA KEPADA SEMUA BLOGGER UNTUK BERPARTISIPASI

Cari Blog Ini

Memuat...

Laman

Total Tayangan Laman

Jumat, 27 Februari 2009

PEMBELAJARAN PARTISIPATIF

PEMBELAJARAN PARTISIPATIF
PENDAHULUAN
Dengan diberlakukannya Kurikulum 2006, yang juga dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (baca: kurikulum sekolah), guru diberi kebebasan mendesain pembelajaran sendiri sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sekolah. Oleh karena itu, sudah bukan saatnya lagi guru memaksakan pengetahuan kepada siswa. Model pembelajaran seperti itu menempatkan siswa hanya sebagai obyek. Siswa tidak dihargai sebagai individu yang sedang belajar dan membutuhkan bimbingan untuk mengembangkan potensinya, baik potensi intelektual maupun kepribadiannya.
Sudah saatnya guru meninggalkan model pembelajaran yang menggunakan cara-cara instan. Model pembelajaran dengan sistem dril, yang mengharapkan hasil bagus dengan cepat tanpa mengindahkan prosedur pembelajaran yang semestinya, sesungguhnya bersifat intimidatif. Bagaimana tidak meng-’intimidasi’ bila siswa senantiasa dihadapkan pada keharusan meraih minimal ’nilai tertentu’ yang menjadi standar kelulusan atau kenaikan kelas? Akibatnya, siswa mengikuti pembelajaran di bawah bayang-bayang ancaman dan ketakutan ’tidak naik kelas atau tidak lulus ujian’ jika tidak dapat menyerap atau menguasai materi pelajaran (lebih tepatnya: menghafal), yang akan dibuktikan dengan ulangan/tes/ujian.
Apabila dengan pembelajaran intimidatif tadi siswa merasa terpaksa mengikuti kegiatan pembelajaran, sudah saatnya guru memikirkan dan menerapkan model pembelajaran lain yang lebih memahami kondisi siswa. Salah satu alternatifnya adalah model pembelajaran yang bersifat partisipatif. Di sini siswa dilibatkan dan diikutsertakan dalam menentukan dan mencari bahan/materi (dari berbagai sumber) yang akan dipelajari.

PEMBAHASAN

A. Konsep Pembelajaran Partisipatif
Pembelajaran partisipatif pada intinya dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengikut sertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yaitu dalam tahap perencanaan program, pelaksanaan program dan penilaian program. Partisipasi pada tahap perencanaan adalah keterlibatan peserta didik dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan, sumber-sumber atau potensi yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran. Partisipasi dalam tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar. Dimana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan hubungan antara peserta didik, dan antara peserta didik dengan pendidik sehingga tercipta hubungan kemanusiaan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai, saling membantu dan saling belajar. Partisipasi dalam tahap penilaian program pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam penilaian pelaksanaan pembelajaran maupun untuk penilaian program pembelajaran. Penilaian pelaksanaan pembelajaran mencakup penilaian terhadap proses, hasil dan dampak pembelajaran.

Prinsip-prisip utama kegiatan pembelajaran partisipatif meliputi: 1) berdasarkan kebutuhan belajar 2) berorientasi pada tujuan kegiatan belajar, 3) berpusat pada warga belajar, 4) belajar berdasarkan pengalaman, 5) kegiatan belajar dilakukan bersama oleh warga belajar dengan sumber belajar dalam kelompok yang terorganisasi, 6) kegiatan pembelajaran merupakan proses kegiatan saling membelajarkan, 7) kegiatan pembelajaran diarahkan pada tujuan belajar yang hasilnya dapat langsung dimanfaatkan oleh warga belajar, 8) kegiatan pembelajaran menitik beratkan pada sumber-sumber pembelajaran yang tersedia dalam masyarakat dan 9) kegiatan pembelajaran amat memperhatikan potensi-potensi manusiawi warga belajar.
Selain itu, pembelajaran partisipatif sebagai kegiatan pembelajaran juga memperhatikan prinsip proses stimulus dan respons yang di dalamnya mengandung unsur-unsur kesiapan belajar, latihan, dan munculnya pengaruh pada terjadinya perubahan tingkah laku. Pembelajaran partisipatif sebagai kegiatan belajar lebih memperhatikan kegiatan-kegiatan individual dan mengutamakan kemampuan pendidik, menekankan pentingnya pengalaman dan pemecahan masalah, dan memfokuskan pada manfaat belajar bagi peserta didik
Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partisipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

B. Ciri-ciri kegiatan pembelajaran partisipatif
Kegiatan pembelajaran partisipatif memilikii ciri-ciri pokok yang meliputi:
1. Sumber belajar menenpatkann diri pada posisi yang tidak serba mengetahui terhadap semua bahan belajar. Memandang warga belajar sebagai sumber yang mempunyai nilai dan manfaat dalam kegiatan belajar.
2. Sumber belajar memainkan peranan membantu warga belajar dalam melakukan kegiatan belajar. Kegiatan belajar ini didasarkan atas kebutuhan belajar warga belajar.
3. Sumber belajar memotovasi warga belajar agar berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan dalam mengevaluasi program pembelajaran yang dijalaninya.
4. Sumber belajar bersama warga belajar melakukan kegiatan saling membelajarkan dalam bentuk bertukar fikiran mengenai isi,proses, dan hasil belajar serta pengembangannya.
5. Sumber belajar berperan membantu warga belajar dalam menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, sehingga warga belajar dapat melibatkan diri secara aktif dan bertanggungjawab dalam proses kegiatan pembelajaran.
6. Sumber belajar mengembangkan kegiatan belajar kelompok.
7. Sumber belajar mendorong warga be;lajar untuk meningkatkan semangat berprestasi, semangat berkompetisi menghadapi tantangan yang berorientasi pada perbaikan kehidupan yang lebih baik.
8. Sumber belajar mendorong dan membantu warga belajar untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah di dalam dan terhadap kehidupan yang dihadapinya sehari-hari.
9. Sumber belajar dan warga belajar secara bersama-sama mengembangkan kemampuan antisipasi dan partisipasi.
10. Pembelajaran mencapai otonomi dan integrasi dalam kegiatan individual dan kehidupan sosialnya.

C. Teori pendukung pembelajaran partisipasi
Menurut Sudjana, kegiatan belajar partisipasif didukung oleh beberapa teori pembelajaran, di antaranya adalah teori connectionism Thorndike, teori aliran tingkah laku yang dikembangkan oleh Guthrie, Skinner, Crowder dan Hull, teori Gestal dan teori medan. Dalam Kaitan ini, Trisnamansyah mengatakan bahwa kegiatan pembelajaran dalam pendidikandi luar sekolah termasuk di da;lamnya kegiatan pembelajaran partisipasi mendapat dukungan dari teori-teori perubahan sosial dan psikologi sosial yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran seperti teori perubahan sikap sosial, teori dinamika kelompok, teori komunikasi inovasi dan teori manajemen perubahan dalam pendidikan.
Teori yang relevan dibahas dalam hubungannya dengan kebutuhan pengkajian ini adalah teori Asosiasi dan teori medan. Teori asosiasi dikembangkan oleh Thorndike dan dilanjutkan Witson dan William James. Toeri asosiasi berpandangan bahwa mutu kegiatan belajar akan efektif apabila interaksi antara sumber belajar dan warga belajar dilakukan melalui stimulus dan respon (S-R). Oleh karena itu makin giat dan makin tinggi kemampuan warga belajar dalam mengembangkan stimulus dan respon, maka makin efektif kegiatan belajarnya. Teori asosiasi mengandung prinsip-prinsip dalam kegiatan belajar-membelajarkan, yaitu prinsip kesiapan (readness), latihan (exercise), dan pengaruh (effect). Prinsip kegiatan menekankan perlunya motovasi yang tinggi pada diri warga belajar atau peserta didik untuk menghubungkan stimulus dan respon. Prinsip latihan menekankan pentingya kegiatan latihan secara berulang oleh warga belajar atau peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar. Prinsip pengaruh menekankan pada pentingnya hasil dan manfaat langsung dari kegiatan belajar yang dijalani oleh warga belajar atau peserta didik. Dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran partisipasi, teori asosiasi semakin mempertegas pentingnya peserta didik untuk melakukan respon terhadap setiap stimullus oleh warga belajar atau peserta didik itu sendiri serta menekankan pentingnya kegiatan belajar perorangan.
Sementara itu teori medan yang dikembangkan oleh Kurt Lewin, menekankan pentingnya pengalaman warga belajar yang berorientasi pada pemecahan masalah serta didasari oleh motivasi belajar yang kuat. Teori medan beranggapan bahwa setiap kegiatan akan efektif apabila warga belajar merasakan kebutuhan untuk belajar serta memiliki kesadaran diri bahwa belajar adalah sesuatu yang penting dalam meningkatkan kualitas dan martabat kehuidupannya. Oleh karena itu, kegiatan belajar bersama dalam kelompok belajar menjadi penting dan utama bagi warga belajar.

D. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif
Pendidikan partisipatif, atau teknik partisipatif, dilandasi oleh suatu pandangan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki pengalaman yang cukup kaya – untuk bisa diolah menjadi bahan pembelajaran. Pendidikan partisipatif, tentu bukan sekedar teknik, melainkan statu pendekatan atau bahkan paradigma baru yang meninggalkan paradigma lama yang bersifat sistem bank.
Metode pembelajaran atau dalam istilah Knowels, “format pembelajaran” diartikan sebagai patokan umum oleh karena itu bisa dikatakan bahwa metode pembelajaran partisipatif adalah suatu patokan umum pembelajaran partisipatif. Ahli lain seperti Vemer mengklasifikasikan metode pembelajaran ke dalam tiga kategori, yaitu: metode pembelajaran perorangan (Individual Methods), metode pembelajaran kelompok (Group Methods) dan metode pembelajaran pembangunan masyarakat (Community Methods).
Selanjutnya teknik pembelajaran diartikan sebagai penggunaan patokan-patokan khusus dalam melaksanakan suatu methode pembelajaran tertentu yang meliputi langkah-langakah, sarana dan alat bantu dalam ruang lingkup metode pembelajaran yang digunakan. Knowleds menggolongkan teknik-teknik pembelajaran ke dalam jenis-jenis teknik pembelajaran berikut: 1) teknik penyajian, meliputi ceramah, siaran, televisi dan video tape, dialog, tanya jawab dan lain-lain, 2) teknik partisipasi dalam kelompok besar mencakup tanya jawab, forum, kelompok guru dan panel berangkai, 3) teknik diskusi berupa diskusi terbimbing, pemecahan masalah dan diskusi kasus, 4) teknik simulasi terdiri dari beermain peran, pemecahan masalah dan studi kasus, 5) teknik latihan kelompok, 6) teknik latihan tanpa bicara, dan 7) teknik latihan keterampilan dan latihan.

E. Peran Pendidik Dalam Pembelajaran
Peran pendidik dalam pembelajaran partisipatif lebih banyak berperan sebagai pembimbing dan pendorong bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran sehingga mempengaruhi terhadap intensitas peranan pendidik dalam pembelajaran. Menurut Knowles dan Cronne, peranan sumber belajar mencakup: 1) menciptakan dan mengembangkan situasi kegiatan belajar partisipatif, 2) menekankan peranan warga belajar yang melaksanakan kegiatan belajar, dan 3) sumber belajar dituntut agar mampu menyusun dan mengembangkan strategi pembelajaran partisipatif.
Pada awal pembelajaran, intensitas peran pendidik sangat tinggi yaitu untuk menyajikan berbagai informasi bahan belajar, memberikan motivasi serta memberikan bimbingan kepada peserta dalam melakukan pembelajaran, tetapi makin lama makin menurun intensitas perannya digantikan oleh peran yang sangat tinggi dari peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran secara maksimal.
Langkah-langkah yang harus ditempuh pendidik dalam membantu peserta didik untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah:
1. Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.
2. Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
3. Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
4. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.
5. Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
6. Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
7. Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar

F. Proses Pembelajaran Partisipatif
Proses pembelajaran partisipatif dibentuk oleh unsur-unsur atau faktor pembentuk proses pembelajaran. Unsur pembentuk proses pembelajaran tersebut adalah: 1) tujuan, 2) materi, 3) metode, 4) warga belajar, 5) fasilitator, 6) iklim dan 7) evaluasi. Kegiatan proses pembelajaran partisipatif mencakup enam tahapan kegiatan yang berorientasi. Keenam langkah kegiatan tersebut adalah: pembinaan keakraban, identifikasi keutuhan, sumber dan kemungkinan hambatan, perumusan tujuan belajar, penyusunan program kegiatan belajar, pelaksanaan kegiatan belajar dan penilaian terhadap proses, hasil, dan dampak kegiatan pembelajarn yang dilaksanakan.
Pembelajaran partisipatif menghargai pengetahuan dan pengalaman para pendidik untuk terampil dalam menggunakan semua metode yang berbeda. Suatu situasi pembelajaran yang berhubungan dengan pengalaman seharusnya selalu diikuti oleh suatu sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab membantu melakukan kontekstualisasi pengelaman individu dan kelompok ke dalam suatu kerangka verja yang lebih luas.
Kerangka kerja tanya jawab mengikuti siklus pembelajaran sebagai berikut:
1. Publikasi Data: Berbagi pengalaman dan pengamatan.
Pertanyaan-pertanyaan spesifik seharusnya dituliskan di papan/bagan. Guru sebagai fasilitator harus bekerja mengenai bagaimana data akan dituliskan pada bagan. Pertanyaan seharusnya diajukan atas masing-masing peserta dan respon dicatat pada bagan. Perasaan yang seharusnya diungkapkan hanya yang berhubungan dengan isu-isu kunci untuk analisis.
2. Pemrosesan Data: Membahas pola dan dinamika.
Respon-respon ini seharusnya dicatat dan saling hubungan perasaan, interaksi, dan peristiwa dibangun di dalam proses. Sementara para peserta berbagi pengalaman mereka, fasilitator harus mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak mempertanyakan atau membalas perasaan yang diungkapkan. Sebaliknya ia harus menuliskannya pada bagan
3. Penyamarataan dan Penerapan Data: Mengemukakan prinsip-prinsip.
Respon-respon ini harus juga dicatat dan dikonsolidasikan di dalam proses. Prinsip-prinsip kunci harus diturunkan atas dasar data dan analisisnya. Prinsip-prinsip ini harus dihubungkan dengan konsep-konsep teoritis yang ada.
4. Penutup pengalaman.
Suatu penutupan formal atas latihan harus dilakukan ádalah meninggalkan pada para peserta dengan rasa puas dan berani melakukan eksplorasi ke depan.

PENUTUP
Pendidikan partisipatif, atau teknik partisipatif, ádalah sebuah upaya pendidik untuk mengikut sertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yaitu dalam tahap perencanaan program, pelaksanaan program dan penilaian program. Pembelajaran partisipatif dilandasi oleh suatu pandangan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki pengalaman yang cukup kaya – untuk bisa diolah menjadi bahan pembelajaran. Pendidikan partisipatif, tentu bukan sekedar teknik, melainkan statu pendekatan atau bahkan paradigma baru yang meninggalkan paradigma lama yang bersifat sistem bank.
Mengubah paradigma tentu bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Masalah ini tentu tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat. Kita membutuhkan suatu langkah yang sistematis, massal dan terus menerus. Pendidikan partisipatif memiliki maksud dasar untuk mengubah pola hubungan yang ada antara peserta didik dengan pendidik (sumber relajar). Para guru harus bersedia mengakui bahwa pihaknya juga memerlukan belajar dari muridnya (warga relajar) dan demikian pula sebaliknya.
Kebutuhan ini, sudah tentu sangat sulit bisa diharapkan berkembang dalam waktu dekat. Guru sebagai fasilitator dituntut untuk mengubah diri, demikian juga peserta didik. Inilah yang dikatakan bahwa perubahan paradigma tidak bisa dilakukan dalam jangka dekat. Salah satu proses penting yang layak dilalui ádalah adanya pembaharuan model-model pendidikan. Pembaharuan dalam model ini tidak hanya hendak mengoreksi cara mengajar, tetapi juga mengoreksi keseluruhan proses pembelajaran. Kesemuanya ini menuntut adanya kesediaan semua pihak untuk bersedia mengubah atau mentrasformasi pandangannya mengenai pendidikan.



DAFTAR PUSTAKA

D. Sudjana. 1993. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif Dalam Pendidikan Luar Sekolah, Bandung: Nusantara Press.
E.A Locke & Associates. 2002. Essensi Kepemimpinan : Empat Kunci Untk Memimpin Dengan Penuh Keberhasilan, Jakarta: Spektrum.
Knowles, M. 1975. Self Directed Learning. Chicago : Follet Publishing Company.
M. Knowles, Informal Adult Education, New York: Association Publishing Company.
Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
Robert K. Cooper dan Sawaf. 2002. Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan dan Organisasi, Jakarta: Gramedia, 2002.
S. Trisnamansyah. 1993. Perkembangan Pendidikan luar Sekolah dan Upaya Mempersiapkan Pelaksanaan Wajib Belajar Dasar Sembilan Tahun, Bandung: IKIP.
Sudjana. 2000. Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Luar Sekolah dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: Penerbit Falah Production.
http://anakciremai.blogspot.com/2008/09/makalah-ilmu-pendidikan-tentang-model.html
http://www.sampoernafoundation.org/content/view/567/48/1/1/lang,id/
http://blog.uny.ac.id/yoyonsuryono/makalah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar