Loading...

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

MEMBUKA SELUAS-LUASNYA KEPADA SEMUA BLOGGER UNTUK BERPARTISIPASI

Cari Blog Ini

Memuat...

Laman

Total Tayangan Laman

Kamis, 26 Februari 2009

MODEL CARA PEMECAHAN MASALAH

MODEL CARA PEMECAHAN MASALAH
Oleh : Nur Afifuddin
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setiap saat manusia dihadapkan pada penemuan-penemuan baru di berbagai tempat di atas bumi. Semua itu merupakan tantangan baru yang harus dihadapi. Dengan adanya tantangan baru tersebut maka lahirlah cabang-cabang ilmu baru yang sudah mengarah spesialisasi atau spesifik pada bidang tertentu. Dengan demikian dapat memungkinkan perubahan pola berpikir dalam masyarakat. Manusia dapat cenderung memecahkan masalah yang terjadi hanya dari sudut pandang disiplin ilmunya masing-masing.sehingga dapat mengisolasi dirinya atau kelompoknya dengan kelompok masyarakat yang lain.
Perkembangan ilmu dan teknologi saat ini sangat pesat. Perkembangan tersebut dapat menyebabkan perubahan dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat yang semula tidak mengetahui perkembangan ilmu dan pengetahuan yang terjadi di belahan bumi lain, sekarang dapat mengetahui kejadian yang terjadi. Dengan cara menggunakan media masa, masyarakat dapat mengakses berita beberapa saat setelah kejadian berlangsung. Beberapa kejadian dapat juga menambah masalah kemasyarakatan yang semakin lama semakin kompleks dan berliku-liku.
Masalah yang terjadi adalah sangat kompleks. Masalah tersebut tidak dapat dipecahkan hanya dengan salah satu disiplin ilmu saja, tetapi memerlukan sebuah sistem dalam pemecahannya. Berbagai sudut pandang dengan berbagai macam disiplin ilmu sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah yang kompleks. Manusia tidak hidup sendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Saling ketergantungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sebuah keadaan yang tidak dapat terbantahkan. Oleh karena itu pendekatan sistem dapat memberikan solusi di tengah – tengah masyarakat untuk memberi kerangka berpikir memecahkan masalah secara menyeluruh dan terpadu. Baik dalam dunia pendidikan maupun kehidupan masyarakat yang lain.
Pendekatan sistem dalam dunia pendidikan digunakan dalam mengatasi masalah – masalah pendidikan yang semakin kompleks dan kadang-kadang kita tidak tahu dari mana kita memulainya. Sering kita hanya terjebak dalam pembicaraan jenis – jenis pendidian yaitu pendidikan formal, non formal dan informal secara terpisah, padahal sebenarnya sangat terpadu. Dalam dunia pendidikan dikenal ada sistem kegiatan pendidikan (SKP). Kita harus menganalisis masalah pendidikan dan memperbaikinya dengan menggunakan pendekatan sistem.

B. Rumusan Masalah
Dari uaraian latar belakang di atas, maka timbul permasalahan sebagai berikut :
1. Model apa sajakah yang digunakan dalam pemecahan masalah ?
2. Bagaimanakah cara penerapan model tersebut dalam memecahkan masalah pendidikan ?


BAB II
MODEL CARA PEMECAHAN MASALAH

A. Model Pemecahan Masalah Pendidikan dari Dr. Henry Lehman.
Pemecahan masalah dengan pendekatan sistem dapat memberi (1) suatu cara yang sistematik dan sistemik untuk memecahkan masalah, (2) proses yang teratur untuk mengembangkan cara pemecahan, (3) proses yang disusun untuk meminimalisisr pendapat terdahulu yang bersifat prasangka dan mengoptimalkan keobyektifan. Pada masa lalu pendekatan langkah demi langkah pada pendekatan sistem disebut “metode ilmiah”
Pada tahun 1967 dimulai proyek ARISTOTLE (Annual Review and Information Symposium on the Technology of Training, Learning and Education) yang membahas tentang ide, perkembangan dan teknik baru yang dapat memberikan sumbangan peningkatan kualitas dan efisiensi dalam bidang pendidikan dan training. Pendidikan sistem yang dikembangkan dalam bidang pendidikan terdiri dari delapan langkah sebagai berikut :
KEBUTUHAN
TUJUAN
KENDALA
MODIFIKASI
PEMILIHAN ALTERNATIF
ALTERNATIF
IMPLEMENTASI
EVALUASI
Gambar 8.1 Model Pendekatan Sistem dalam Proyek ARISTOTLE

1. Merumuskan Kebutuhan Nyata
Dialamatkan kepada semua masalah yang harus dipecahkan, bukan hanya masalah-masalah pendidikan saja. Pendidikan hanyalah salah satu cara penyelesaian terhadap seluruh permasalahan.
2. Merumuskan Tujuan
Dalam pendekatan sistem menentukan tujuan sangat penting, karena semua langkah berikutnya dirancang untuk mencapai tujuan. Jika tujuan tidak dirumuskan secara tepat, pendekatan sistem tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah secara tepat. Tujuan dirumuskan dengan kata yang operasional agar dapat dimengerti untuk diimplementasikan dalam mencapai tujuan.
3. Mengidentifikasi Kendala
Semua kendala harus dikaji agar dapat dipisahkan antara yang benar-benar kendala dengan kendala yang hanya berdasar asumsi atau perkiraan saja. Kadang kita merasa ragu-ragu untuk menggunakan cara baru dalam memecahkan suatu masalah, padahal para ahli sudah berkesimpulan bahwa pasti ada cara baru yang lebih baik, lebih efektif dan efisien.
4. Merumuskan Alternatif-alternatif
Yaitu menerapkan cara-cara baru dengan cara membuat membuat daftar cara-cara pemecahan masalah yang potensial. Metode yang dipakai adalah metode brainstorming yang memberi kebebasan intelektual untuk menyatakan pendapat. Brainstorming bermaksud untuk menginventarisasi cara-cara pemecahan masalah bukan untuk mengevaluasi cara pemecahan masalah yang diusulkan. Untuk itu ciptakan kebebasan intelektual, jangan mengkritik atau mengevaluasi usul-usul yang disampaikan.
5. Memilih Alternatif
Dalam langkah ini kita memilih calon pemecahan masalah yang paling potensial. Langkah inipun harus dilakukan secara ilmiah. Banyak pilihan pendekatan dalam memecahkan masalah. Untuk memilih satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang ada dapat diketengahkan pedoman sebagai berikut :
a. Menentukan kriteria yang akan digunakan untuk memilih sistem yang paling memberi harapan
b. Menyusun metode kuantitatif untuk menilai tiap-tiap alternatif atas dasar kriteria pemilihan tersebut
c. Mengevaluasi nilai relatif dari kriteria pemilihan
d. Menggunakan metode analitik untuk memilih alternatif yang paling baik
e. Mereview hasil analisis atas dasar keputusan yang sungguh-sungguh masak
f. Membuat pemilihan alternatif yang terakhir untuk dites.
Disamping itu perlu pula dipertimbangkan hal-hal berikut :
a. Pertimbangan semua kriteria pemilihan
b. Yakinkan diri sendiri bahwa sistem pemberian skor benar-benar meyakinkan
c. Gunakan keseimbangan yang rasional menganalisis dan mengambil keputusan
d. Jangan menjatuhkan hukuman terhadap cara pemecahan masalah yang radikal hanya karena menimbulkan masalah
e. Yakinkan diri sendiri bahwa alat-alat yang digunakan untuk memilih alternatif benar-benar efektif
6. Mengimplementasi Pilihan
Setelah alternatif cara pemecahan masalah dipilih kemudian mengimplementasikannya. Langkah pertama adalah mengadakan uji coba dalam skala kecil, dilanjutkan skala besar sebelum diimplementasikan secara nasional. Prosedur untuk mengadakan implementasi adalah sebagai berikut :
a. Menggambarkan/melukiskan elemen-elemen kegiatan, mengatur atau merencanakan kegiatan serta mengidentifikasi sumber-sumber kebutuhan
b. Merencanakan suatu program untuk mengevaluasi alternatif yang telah dipilih seperti tes formatif, untuk meminimalisir resiko
c. Membentuk kelompok eksperimen agar supaya dapat dikontrol
d. Membentuk instrumen pengumpul data yang digunakan untuk evaluasi
e. Mengimplementasikan program dengan penuh keyakinan
Disamping kelima hal di atas, hal di bawah ini perlu diperhatikan :
a. Meyakinkan diri bahwa anda tengah mengimplementasikan sistem yang cukup baik untuk menambah motivasi
b. Bersedia untuk meneruskan eksperimen jangka panjang agar diperoleh hasil yang valid
c. Menghindari penggantian rencana asli tanpa alasan yang kuat
d. Bersedia menjawab tantangan dari orang lain yang menginginkan eksperimen dihentikan hanya karena langkah awal yang tersendat
e. Meyakinkan diri bahwa anda dapat mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hasilnya.
f. Persiapan meneruskan jika ujicoba dalam skala besar atau nasional berhasil
g. Mengadakan perbaikan jika dari umpan balik dari evaluasi menghendaki demikian
h. Memberanikan diri untuk mengujicobakan sesuatu yang baru
7. Mengadakan Evaluasi
Hasil dari kegiatan implementasi harus dievaluasi. Kriteria yang dapat mengukur secara pasti sebagai parameter keberhasilan harus disusun, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar obyektif. Kegiatan evaluasi terbagi dua yaitu evaluasi proses dan evaluasi progres. Evaluasi proses mengevaluasi kegiatan-kegiatan pelaksanaan seperti pengiriman naskah-naskah, pembelian barang, dan sebagainya. Sedangkan evaluasi progres atau kemajuan mengevaluasi kegiatan dalam rangka mencapai tujuan.

8. Mengadakan Modifikasi
Suatu hal yang sangat mungkin terjadi dari hasil evaluasi adalah diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa tujuan tidak dapat dicapai dengan sempurna. Jika ini terjadi, semua langkah perlu dikaji ulang, perubahan-perubahan harus dibuat, diujicoba dan dievaluasi lagi. Proses yang berulang-ulang ini harus dikerjakan sampai tujuan yang diinginkan itu tercapai.

B. Penerapan Pendekatan Sistem Untuk Perbaikan Pendidikan dari David J. Klaus
Pendidikan merupakan salah satu bidang yang dapat memanfaatkan teknologi baik dalam bidang sarana, perencanaan kurikulum, evaluasi belajar, metodologi belajar maupun bidang bimbingan karir. Kesenjangan antara apa yang dikerjakan dengan yang seharusnya dikerjakan dalam memberikan pendidikan yang efektif akibat karena kurang menguasai teknologi.
Usaha perorangan yang bekerja dalam bidang keahlian dan spesialisnya harus dikombinasikan jika perencanaan pendidikan ingin memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal ini memerlukan pendekatan sistem yang mengintegrasikan bermacam-macam komponen yang diperlukan untuk mengimplementasikan suatu inovasi ke dalam suatu sistem.
Komponen-komponen dalam sistem tidak boleh terpisah tetapi harus bersifat integral satu sama lain. Pada sistem pendidikan kita harus memperhatikan proses yang terjadi, bukan hanya menekankan pada hasil saja.
Langkah-langkah pemecahan masalah model David J. Klaus mempunyai enam langkah sebagai berikut :
1. Perumusan masalah
2. Penentuan hasil yang diharapkan
Dalam perencanaan sistem pendidikan harus dirumuskan terlebih dahulu masalah dan tujuan (hasil) yang akan dicapai. Hal ini dilakukan untuk memberikan ancar-ancar arah bagi orang-orang yang akan berkecimpung dalam berbagai bidang akan mempunyai tujuan yang sama
3. Merumuskan ukuran-ukuran keberhasilan
Merumuskan ukuran-ukuran keberhasilan bukan hanya untuk keseluruhan melainkan juga untuk masing-masing komponen dalam sistem itu sendiri. Bagaimana siswa belajar di sekolah dan bagaimana mengukurnya ? Apakah ada keterbatasan anggaran dan bagaimana anggaran itu harus dialokasikan ? Tuntutan akan hasil yang bisa diukur membedakan antara pendekatan sistem dengan pendekatan lain yang digunakan untuk mengadakan perbaikan pendidikan.
4. Merumuskan cara perumusan masalah yang potensial
Dalam langkah keempat ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Tidak ada satupun teknologi atau inovasi dalam pendidikan mampu mencapai setiap tujuan : isi, fasilitas, bakat dan masih banyak lagi faktor-faktor lain yang perlu dikombinasikan ke dalam suatu sistem agar mudah dilaksanakan
b. Tidak ada satu teknologi inovasi sekalipun telah disusun menurut sistem yang telah dilaksanakan, akan memenuhi setiap kriteria yang ditetapkan sebelumnya.
5. Mengadakan uji coba dan revisi
Langkah ini untuk memperbaiki yang terdapat di dalam cara pemecahan masalah yang dipilih. Suatu sistem belajar mungkin lebih efektif misalnya bila ia memberi kesempatan belajar kepada anak-anak menurut irama belajar masing-masing. Sistem yang lain menggunakan film yang dilengkapi dengan pita suara. Lain sistem lagi menggunakan buku pelajaran yang dicetak lebih banyak atau diadakan penyempurnaan pada proses pendidikan guru.
6. Mengadakan implementasi dan perbaikan
Teknologi pendidikan berkembang dengan pesat dan inovasi-inovasi baru bermunculan. Suatu sistem mungkin cepat menjadi usang kecuali ada usaha yang tekun dilakukan untuk menemukan kekurangan-kekurangan dan memperbaikinya. Kemampuan untuk berubah harus disatukan ke dalam sistem sebagai prosedur untuk melakukan evaluasi dan feedback secara berkelanjutan.
Diagram model dari Klaus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
PROBLEM
HASIL
UKURAN-UKURAN KEBERHASILAN
UJI COBA
dan
REVISI
CARA PEMECAHAN
yang
POTENSIAL
IMPLEMENTASI dan
PERBAIKAN
Gambar 8.2 Model Pendekatan Sistem dari David J. Klaus

C. Aplikasi Pendekatan Sistem Untuk Pengembangan Pendidikan di Indonesia
Sejumlah besar usaha manusia menggambarkan suatu usaha untuk mencapai beberapa tujuan. Tujuan-tujuan itu dapat berupa penciptaan sebuah pesawat terbang yang lebih cepat. Dalam pelaksanaannya dapat dipastikan menghadapi kendala yang harus diatasi, keterbatasan sumber-sumber yang tidak dapat diatasi, dan alternatif-alternatif pemecahan dan konsekuensinya yang harus dipertimbangkan. Di Indonesia, Pancasila merupakan prinsip-prinsip yang terpuji yang menjadi arah tujuan-tujuan kemasyarakatan. Tujuan-tujuan ini tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Sumber-sumber yang terbatas harus dialokasikan secara berencana untuk mencapai tujuan-tujuan yang disusun menurut skala prioritas tertentu. Perencanaan yang sistematis merupakan suatu harapan dari setiap masyarakat, tetapi merupakan hal yang sangat sulit karena memiliki sumber-sumber yang sangat terbatas.
Penyusunan rencana terdiri atas tindakan yang spesifik. Proses pengambilan keputusan pada dasarnya sangat komplek, seperti ditunjukkan dengan ”flow chart” seperti di bawah ini :
Masalah dan kebutuhan
Tujuan
Sumber dan Kendala
Alternaatif-alternatif
Masukan bagi Pengambil Keputusan
Kepu
tusan
Rencana Imple-
mentasi
Gambar 8.3 Model Proses Pengambilan Keputusan dari BPP
Dalam biang perencanaan pendidikan, elemen-elemen dalam chart ini dapat ditafsirkan sebagai berikut :
Ø Masalah dan kebutuhan
Berupa kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalam masyarakat seperti buta huruf, pertumbuhan penduduk, industrialisasi, transportasi, komunikasi dan sebagainya.
Ø Tujuan
Menunjuk kepada tujuan-tujuan progran pendidikan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat, seperti peningkatan ketrampilan dan kemampuan seluruh warga negara dalam hal membaca, keluarga berencana, kesehatan, perdagangan, dsb.


Ø Sumber dan kendala
Mencakup faktor pendukung dan penghambat seperti uang, kebijaksanaan dan adat kebiasaan, tersedianya pendidik yang terlatih, aset dan keterbatasan fisik, penentuan waktu dan urutannya, dsb.
Ø Alternatif-alternatif
Menunjuk kepada program-program inovasi yang spesifik yang mempunyai arti dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan.
Dari diagram tersebut jelas bahwa semua masukan dari berbagai tingkat kekhususannya tidak dapat diolah secara serentak. Yang diperlukan disini adalah memproses masukan yang komplek menjadi organisasi yang sistematik.
Diagram di bawah ini menunjukkan gambaran ”black box” yang akan memproses masukan dan memberi hasil-hasil analisis yang dilakukan secara sistematis kepada pengambil keputusan

Masukan Proses Keluaran
Masalah dan kebutuhan
Tujuan
Sumber dan Kendala
Alternaatif-alternatif
Masukan bagi Pengambil Keputusan
Kepu
tusan
Rencana Imple-
mentasi
Gambar 8.4 Model Proses Analisis dengan ”Black Box”
Pendekatan sistem dapat membantu melakukan fungsi-fungsi yang sifatnya memproses dengan memberikan cara-cara yang sistematis untuk mengolah data seperti ditunjukkan pada diagram di bawah ini..

Sistem Perencanaan Pendidikan

Sumber dan Kendala
Kriteria Pemilihan Alternatif
Kebutuhan
Tujuan
Alternatif
Analisis
Alternatif
Kepu
tusan
Rencana untuk Implementasi
Umpan balik
Evaluasi

Diagram 8.5 Model Pemecahan Masalah Pendidikan dari BPP

Diagram tersebut menunjukkan komponen-komponen utama dari suatu rencana tindakan yang diusulkan yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum diimplemenasikan. Diagram tersebut juga menunjukkan urutan prosedur analisis yang harus diterapkan, demikian juga output dari pengambilan keputusan. Masing-masing kotak menggambarkan subproses yang esensial dan harus diciptakan hubungan-hubungan yang sistematis. Makin tajam metodologi yang dikembangkan untuk melaksanakan hubungan-hubungan yang sistematis itu semakin kurang permasalahan yang timbul dalam proses dan hasilnya akan
semakin tepat.
Peranan evaluasi dan umpan balik dalam sistem ini perlu dicatat secara tegas dan jelas. Mekanisme perencanaan yang efektif tergantung dari kombinasi dari
analisis dan data empirik.
Betapapun sempurnanya aplikasi pendekatan sistem, ia tidak dapat merumuskan tujuan melainkan manusia sendiri yang akan merumuskannya. Demikian pula halnya metode pendekatan sistem tidak dapat menentukan bagaimana mengalokasikan sumber-sumber untuk mencapai tujuan, sebab manusia sendirilah yang harus mengambil keputusan pengalokasian sumber-sumber. Tetapi sistem perencanaan akan sangat membantu dalam mendistilasikan
informasi yang tepat.
BAB III
SIMPULAN

Pemecahan masalah dengan pendekatan sistem dapat memberi (1) suatu cara yang sistematik dan sistemik untuk memecahkan masalah, (2) proses yang teratur untuk mengembangkan cara pemecahan, (3) proses yang disusun untuk meminimalisir pendapat terdahulu yang bersifat prasangka dan mengoptimalkan keobyektifan. Pada masa lalu pendekatan langkah demi langkah pada pendekatan sistem disebut “metode ilmiah”
Betapapun sempurnanya aplikasi pendekatan sistem, ia tidak dapat merumuskan tujuan melainkan manusia sendiri yang akan merumuskannya. Demikian pula halnya metode pendekatan sistem tidak dapat menentukan bagaimana mengalokasikan sumber-sumber untuk mencapai tujuan, sebab manusia sendirilah yang harus mengambil keputusan pengalokasian sumber-sumber. Tetapi sistem perencanaan akan sangat membantu dalam mendistilasikan informasi yang tepat.


DAFTAR PUSTAKA

Soenarwan. 2008. Pendekatan Dalam Sistem Pendidikan. Surakarta : Sebelas Maret University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar