Loading...

SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

MEMBUKA SELUAS-LUASNYA KEPADA SEMUA BLOGGER UNTUK BERPARTISIPASI

Cari Blog Ini

Memuat...

Laman

Total Tayangan Laman

Jumat, 27 Februari 2009

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES BELAJAR

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PROSES BELAJAR
Oleh : Nur Afifuddin

A. Pendahuluan
Kelancaran proses belajar siswa dipengaruhi beberapa faktor, baik dalam diri mahasiswa/siswa maupun factor lingkungan. Karakteristik mahasiswa/siswa yang mempengaruhi proses belajar yaitu kemampuan mahasiswa/siswa, perhatian, persepsi, ingatan, lupa, retensi, dan transfer. Faktor dari luar mahasiswa/siswa yang berpengaruh pada proses belajar adalah kondisi belajar, tujuan belajar dan pemberian umpan balik.

B. Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Di bawah ini di bicarakan faktor-faktor tersebut secara singkat, yaitu :
1. Kemampuan Siswa
Setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan, ada hubungan yang positip antara kemampuan mahasiswa/siswa dengan hasil belajarnya. Setiap mahasiswa/siswa mempunyai kemampuan awal sebelum menempuh suatu proses pembelajaran. Yang dimaksud dengan kemampuan awal mahasiswa/siswa adalah kemampuan yang telah dipunyai mahasiswa/siswa sebelum ia mengikuti pengajaran (Dick&Carey, 1990; Worell &Stiwell, 1981). Kemampuan awal menggambarkan kesiapan mahasiswa/siswa.
Dengan kemampuan awal dapat diketahui a) Ketrampilan atau pengetahuan yang dipunyai mahasiswa/siswa yang merupakan prasyarat (prerequisite) untuk mengikuti pelajaran, b) Sejauh mana mahasiswa/siswa telah mengetahui materi yang akan disajikan. Kemampuan awal dapat diukur melalui tes awal, interview, melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
2. Motivasi
Motivasi didefinisikan sebagi tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu (Morgan, 1986). Apabila mahasiswa/siswa mempunyai motivasi positip maka ia akan a) memperlihatkan minat, mempunyai perhatian dan ingin ikut serta; b) bekerja keras, serta member waktu kepada usaha tersebut, dan 3) terus bekerja sampai tugas terselesaikan (Worell & Stiwell, 1981).
Motivasi terbagi dua berdasarkan sumbernya yaitu a) motivasi instrinsik, datang dari dalam diri orang tersebut dan b) motivasi ekstrinsik, berasal dari lingkungan di luar orang tersebut. Motivasi instrinsik lebih menguntungkan dalam proses belajar mengajar karena dapat bertahan lama. Motivasi ekstrinsik dapat diberikan dengan mengatur kondisi dan situasi belajar menjadi kondusif. Dengan jalan penguatan-penguatan maka motivasi yang mula-mula ekstrinsik lama kelamaan dapat diharapkan akan berubah menjadi motivasi instrinsik.
Teori-teori motivasi :
a. Teori Dorongan (drive theories)
Tingkah laku seseorang didorong kearah sutu tujuan tertentu karena adanya suatu kebutuhan. Kebutuhan merupakan dorongan internal yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk tercapainya tujuan yang dapat menurunkan intensitas dorongan.
Kebutuhan dorongan tingkah laku tujuan
(respons)


Pengurangan kebutuhan






Gambar A.5. Hubungan kebutuhan dengan motivasi menurut teori dorongan.

Sumber : Dennis Coon (1983). Introduction to Psychology : Exploration and application. St. Paul : West Publ. Co., hal : 271

Menurut Freud, dorongan merupakan sesuatu yang dibawa sejak lahir, bersifat instinktif. Menurut ahli lain, dorongan dapat dipelajari, berasal dari pengalaman masa lalu dan berbeda untuk setiap orang (Morgan et al., 1986)


b. Teori Insentif
Teori ini lebih tepat diberlakukan untuk beberapa motiv biologis seperti lapar, haus, dan seks. Teori insentif menyatakan bahwa adanya sutu karakteristik tertentu pada tujuan yang menyebabkan adanya tingkah laku untuk mencapai tujuan tersebut yang merupakan insentif. Insentif dapat positip dan negatip. Dalam kehidupan sehari-hari orang bekerja keras untuk memperoleh kesenangan yang melalui insentif seperti upah, bonus, liburan dan sebagainya.
c. Teori Motivasi Berprestasi
Seseorang mempunyai motivasi bekerja karena adanya kebutuhan untuk berprestasi. Motivasi merupakan fungsi dari tiga variabel, yaitu 1) harapan untuk melakukan tugas dengan berhasil, 2) persepsi tentang nilai tugas tersebut, dan 3) kebutuhan untuk keberhasilan atau sukses.
Kebutuhan untuk berprestasi bersifat instrinsik dan relatif stabil. Motivasi berprestasi dinyatakan “n-ach”. Orang mempunyai “n-ach” tinggi ingin menyelesaikan tugas dan berorientasi pada tugas dan masalah-masalah yang memberikan tantangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mempunyai n-ach tinggi akan menurun motivasinya bila selalu memperoleh keberhasilan dalam melaksanakan tugas. Sebaliknya kalau mengalami kegagalan maka dapat meningkatkan motivasinya kembali (Gage&Berliner, 1979).
d. Teori Motivasi Kompetensi (Competence Motivation)
Berasal dari Robert White yang menyatakan bahwa setiap mahasiswa / siswa mempunyai keinginan kuat untuk menunjukkan kompetensi dengan menaklukkan lingkungannya. Motivasi belajar pada mahasiswa/siswa merupakan dorongan internal ke tingkah laku yang membawa ke arah kemampuan dan penguasaan.
Ada enam ketrampilan kompetensi diri yang berhubungan dengan kegiatan mahasiswa/siswa, yaitu : 1) ketrampilan mengevaluasi diri dalam melaksanakan tugas, 2) nilai tugas bagi mahasiswa/siswa, 3) harapan untuk sukses untuk tugas tersebut, 4) patokan keberhasilan tugas, 5) locus of control (dengan factor apa mahasiswa/siswa mengkaitkan keberhasilan maupun kegagalan yang dialami), dan 6) penguatan diri dalam mencapai tujuan (Worell 7 stilwell, 1981).
Dosen/guru dapat meningkatkan memotivasi kompetensi mahasiswa/ siswa dengan cara 1) evaluasi diri sehubungan tugas tertentu, 2) penyusunan kontrol dosen/guru-mahasiswa/siswa terhadap tugas, tanggung jawab, nilai, 3) harapan positip untuk berhasil, 4) umpan balik realistik atas penyelesaian suatu tugas. Secara lebih operasional dosen/guru dapat melaksanakan tugas tersebut dengan :
1) Memberi kesempatan kepada mahasiswa/siswa untuk melihat diri sendiri secara objektif
2) Menyesuaikan tingkat kesukaran tugas sehingga memberi harapan untuk berhasil
3) Memberi kesempatan untuk melakukan tugas yang mempunyai nilai lebih tinggi
4) Membuat kesepakatan antara dosen/guru-mahasiswa/ untuk menyusun tujuan yang sesuai dengan kemampuan dan minat mahasiswa/siswa
5) Memberi kesempatan kepada mahasiswa/siswa melakukan penguatan pada diri sendiri atas usaha dan ketahanannya.
e. Teori Motivasi Kebutuhan Maslow
Maslow menyusun teori kebutuhan secara hierarkhis, dikelompokkan menjadi dua yaitu kebutuhan defisiensi dan pengembangan. Kebutuhan defisiensi meliputi kebutuhan fisiologis, keamanan, dicintai serta diakui dalam kelompoknya, harga diri/prestasi. Sedangkan kebutuhan pengembangan meliputi aktualisasi diri, keinginan untuk mengetahui dan memahami, dan kebutuhan estetis.
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan terkuat dan harus pertama terpenuhi sebelum kebutuhan berikutnya. Untuk bergerak ke jenjang kebutuhan yang lebih tinggi orang harus melakukan selangkah demi selangkah, tetapi tidak berlaku apabila menurun.
Teori Maslow akan membuat dosen/guru menjadi tahu, mengapa mahasiswa/siswa :
1) Yang lapar, sakit, atau mempunyai kondisi fisik tidak baik tidak mempunyai motivasi untuk belajar
2) Akan lebih senang bekerja atau belajar dalam suasana senang dan aman
3) Yang merasa disenangi atau dikagumi dalam kelompoknya akan lebih berminat belajar daripada yang dikucilkan
4) Mempunyai keinginan untuk mengetahui dan memahami sesuatu tidak selalu sama
Berdasarkan teori motivasi diatas, berikut saran bagi dosen/guru untuk dapat meningkatkan motivasi mahasiswa/siswanya :
a. Setiap subyek yang diajarkan dibuat menarik
b. Terapkan teknik modifikasi tingkah laku untuk membantu mahasiswa/siswa bekerja keras
c. Mahasiswa/siswa harus tahu apa yang dikerjakan dan tujuan yang dicapai
d. Dosen/guru mempertimbangkan perbedaan individual mahasiswa/siswa dalam hal kemampuan, latar belakang, sikap mereka pada sekolah atau subjek tertentu
e. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan defisiensi mahasiswa/siswa.
f. Untuk mahasiswa/siswa yang memerlukannya, usahakan agar terbentuk kebutuhan untuk berprestasi, rasa percaya diri, dan pengarahan diri sendiri
g. Membuat mahasiswa/siswa ingin menerapkan apa yang telah dipelajari dan ingin belajar lebih banyak lagi.
3. Perhatian
Perhatian didefinisikan sebagai suatu strategi kognitif yang mencakup empat ketrampilan, yaitu : a) berorientasi ke suatu masalah, b) meninjau sepintas isi masalah, c) memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan, dan d) mengabaikan stimulus yang tidak relevan (Worell&Stilwell, 1981).
Dalam kegiatan pembelajaran, perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya. Perhatian dapat membuat mahasiswa/siswa a) mengarahkan diri ke tugas yang akan diberikan, b) melihat masalah yang akan diberikan, c) memilih dan memberikan fokus pada masalah yang harus diselesaikan, dan d) mengabaikan hal-hal yang tidak relevan.
Faktor yang mempengaruhi perhatian seseorang (Child, 1977) :
a. Faktor internal, mencakup :
1) Minat, stimulus sesuai minat akan menarik perhatian.
2) Kelelahan, baik fisik maupun mental mengurangi perhatian
3) Karakteristik pribadi, orang ekstrovert membutuhkan istirahat diantara waktu belajarnya karena tidak dapat konsentrasi jangka panjang seperti orang introvert.
b. Faktor eksternal, meliputi :
1) Intensitas stimulus, makin besar makin menarik perhatian
2) Stimulus yang baru dan tidak umum lebih menarik perhatian
3) Keragaman stimulus, makin beragam akan lebih menarik perhatian
4) Gerak. Stimulus yang bergerak lebih menarik perhatian
5) Penyajian stimulus secara berkala dan berulang dan tidak membosankan lebih menarik perhatian.
Cara yang dapat dipakai dosen/guru untuk menarik perhatian mahasiswa/siswa ialah (Lindgren, 1976) :
a. Mengetahui minat mahasiswa, tergantung dari umur, status sosial ekonomi, harapan, pengalaman, keberhasilan, kejadian-kejadian di dunia, dll
b. Memberi pengarahan dan petunjuk yang memotivasi, missal bagian mana yang penting, bagian yang diuji, dsb.
c. Menjelaskan tujuan-tujuan belajar, topik dan kesimpulan dan materi yang akan diajarkan
d. Memberi “advance” organizer dalam bentuk singkatan materi yang akan diajarkan
e. Mengadakan tes awal atau kuis/pertanyaan-pertanyaan
Hal-hal yang dapat dilakukan dosen/guru agar tetap dapat menarik perhatian mahasiswa/siswa adalah :
a. Menyajikan stimulus yang beraneka ragam
b. Merubah saluran komunikasi sehingga tidak menjemukan
c. Membuat mahasiswa/siswa melakukan aktivitas fisik
d. Memberikan humor selama penyajian/pengajaran
e. Menunjukkan kepada mahasiswa/siswa kesenangan dalam mengajar
f. Mengajukan pertanyaan selama presentasi
g. Memberi kesempatan kepada mahasiswa/siswa untuk mencatat
h. Memberi “hand-outs”
Untuk meningkatkan perhatian mahasiswa/siswa, dosen/guru dianjurkan untuk :
a. Memberikan pemantauan belajar mahasiswa/siswa atau penguatan materi
b. Mengembangkan teknik kognitif, penekanan pada petunjuk dan bahan yang tertulis
c. Memberikan petunjuk verbal sebelum pelajaran dimulai
d. Membantu mahasiswa/siswa mengembangkan strategi untuk mengembangkan diri sendiri
4. Persepsi
Merupakan suatu proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan orang dapat menerima atau meningkat informasi yang diperoleh dari lingkungannya (Fleming&Levie, 1981). Persepsi dianggap sebagai tingkat awal struktur kognitif seseorang.
Persepsi bersifat :
a. Relatif, tidak absolut, tergantung pengalaman sebelumnya
b. Selektif, tergantung pada pengalaman, minat, kebutuhan, dan kemampuan mahasiswa/siswa untuk mengadakan persepsi
c. Teratur, sesuatu yang tidak teratur sulit dipersepsikan
Persepsi mahasiswa/siswa harus sejak dini terbentuk secara akurat. Jangan sampai ada kesalahan persepsi dalam proses pembelajaran. Persepsi mahasiswa/siswa akan menjadi lebih mantap dengan meningkatnya pengalaman. Agar berfungsi secara efektif, maka kemampuan untuk mengadakan persepsi tentang sesuatu harus dikembangkan sebagai suatu kebiasaan (habits).
Prinsip umum yang harus diketahui oleh dosen/guru mengenai persepsi adalah (Fleming&Levie, 1981) :
a. Makin baik persepsi terhadap sesuatu, makin mudah mengingatnya
b. Perlu dihindari persepsi yang salah dalam pengajaran
c. Bila menggunakan media pembelajaran, agar mendekati aslinya.
5. Ingatan
Ingatan merupakan sistem aktif yang menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi yang telah diterima seseorang (Coon, 1983). Ingatan sangat selektif, terdiri tiga tahap :
a. Ingatan sensorik, menyimpan apa yang dilihat dan didengar. Bersifat sesaat, informasi yang penting disimpan selanjutnya diteruskan ke ingatan jangka pendek, yang tidak penting dilupakan.
b. Ingatan jangka pendek (Short term memory), merupakan gudang sementara untuk informasi yang baru masuk, mempunyai kapasitas yang terbatas, sehingga akan menghambat proses belajar sesuatu yang baru yang dinamakan rentangan ingatan (memory span).
c. Ingatan jangka panjang (long term memory), bersifat relatif permanen terdiri dari informasi pentingyang diteruskan dari ingatan jangka pendek. Informasi yang disimpan di ingatan jangka panjang disimpan untuk jangka waktu yang tidak terbatas lamanya.
Kemampuan mengingat mahasiswa/siswa dapat ditingkatkan dengan cara :
a. Memberitahukan mereka keberhasilan belajarnya
b. Menyuruh mereka mengulang kembali sebagian materi yang dipelajarinya
c. Menyuruh mereka belajar sampai pada taraf yang disebut overlearning
d. Memberikan latihan secara berkala
e. Membuat ringkasan apa yang akan dipelajari
f. Memberikan kesempatan pada mahasiswa/siswa untuk beristirahat
g. Mengadakan telaah kembali (review), menekankan pada hal yang perlu diingat
6. Lupa
Merupakan hilangnya informasi yang telah disimpan dalam ingatan jangka panjang. Seseorang dapat melupakan informasi yang telah diperoleh karena :
a. Memang tidak ada informasi yang tersimpan
b. Gagal menrubah ingatan jangka pendek menjadi ingatan jangka panjang
c. Mengalami kesulitan dalam mencari kembali informasi yang telah disimpan
d. Sebagian ingatan telah aus dimakan waktu
e. Ingatan tidak pernah dipakai
f. Materi tidak dipelajari sampai benar-benar dikuasai (underlearned)
g. Materi tidak diberi kode dengan baik dalam ingatan jangka panjang
h. Adanya gangguan dalam bentuk informasi lain yang menghambatnya untuk mengingat kembali apa yang telah pernah dipelajarinya
Cara yang dapat ditempuh dosen/guru untuk mengurangi faktor lupa :
a. Menyajikan informasi yang dapat menarik perhatian mahasiswa/siswa
b. Mengadakan pengulangan kembali materi yang sudah dipelajari
c. Memberikan umpan balik tentang hasil belajar
d. Mengajar mahasiswa/siswa menyeleksi informasi yang perlu diingat
e. Memberikan selang waktu istirahat
f. Tidak member materi yang hampir serupa sekaligus
g. Tidak menyajikan materi sekaligus dalam jumlah banyak
h. Tidak menyajikan materi terlalu cepat
7. Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu, juga kebalikan dari lupa. Jika seseorang belajar, setelah beberapa waktu apa yang dipelajarinya akan banyak dilupakan, dan yang diingat berkurang jumlahnya. Penurunan jumlah materi yang diingat akan sangat cepat pada permulaan, selanjutnya tidak lagi cepat.
Hasil-hasil penelitian mengenai retensi menunjukkan bahwa (Thornburg, 1984) :
a. Materi pelajaran yang bermakna mudah diingat dibanding yang tidak berarti
b. Benda yang konkrit lebih mudah diingat dibanding yang abstrak
c. Retensi akan lebih baik untuk materi yang bersifat kontekstual
d. Tidak ada perbedaan antara retensi dari apa yang telah dipelajari mahasiswa/siswa yang mempunyai berbagai tingkat IQ
Ada tiga faktor yang mempengaruhi retensi, yaitu a) yang dipelajari pada permulaan (original learning), b) belajar melebihi penguasaan (overlearning), dan c) pengulangan dengan interval waktu (spaced review).
Strategi yang dapat digunakan dosen/guru untuk meningkatkan retensi mahasiswa/siswa adalah :
a. Meyakinkan bahwa kekomplekan respons masih dalam batas kemampuan
b. Memberikan latihan jika respons akan dipengaruhi transfer positif
c. Membuat situasi belajar yang jelas dan spesifik sehingga mahasiswa/siswa dapat mempelajari respos diskriminatif yang diinginkan
d. Membuat situasi belajar relevan dan bermakna
e. Memberikan penguatan terhadap respons jika dirasa perlu
Overlearning dapat meningkatkan retensi mahasiswa/siswa, sehingga dosen/guru perlu mengetahui strategi berikut (Thornburg, 1984) :
a. Memberikan waktu tambahan pada Materi yang dianggap sulit
b. Bila mahasiswa/siswa telah menguasai apa yang dipelajari dengan baik, berikan situasi belajar tambahan yang menunjang untuk mengingat kembali dan memantapkan ketrampilan intelektual baru tersebut.
Cara melakukan pengulangan yang diberikan dengan interval waktu :
a. Memberikan latihan dan mengulang secara periodik dan sistematis
b. Memberikan situasi belajar tambahan untuk mengingat kembali pelajaran
c. Mencari peluang untuk menghubungkan apa yang telah dipelajari sebelumnya
Dalam rangka meningkatkan retensi mahasiswa/siswa, Chauham (1979) menyarankan cara tambahan sebagai berikut :
a. Usahakan subjek yang dipelajari bermakna, disusun dengan baik
b. Memakai jembatan keledai (mnemonic), dapat meningkatkan organisasi materi yang dipelajari
c. Memberikan resitasi, dapat meningkatkan praktek mahasiswa/siswa
d. Membentuk konsep yang jelas
e. Memberikan praktek/pengulangan, terutama pelajaran ketrampilan motorik
8. Transfer
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari yang dapat mempengaruhi proses dalam mempelajari materi baru.Transfer balajar atau latihan berarti aplikasi atau pemindahan pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, sikap atau respons lain dari situasi ke situasi lain.
Bentuk transfer dapat a) positif, jika pengalaman sebelumnya membantu penampilan dalam tugas selanjutnya, b) negatif, jika pengalaman sebelumnya menghambat penampilan dalam tugas baru, dan c) transfer nol, jika pengalaman sebelumnya tidak mempengaruhi penampilan selanjutnya.
Transfer dapat diklasifikasikan seperti berikut ini (Chauman, 1979) :
a. Transfer horizontal, jika pengalaman masa lalu dapat dialihkan untuk mempelajari materi yang setingkat atau sekategori. Bentuk berupa 1) lateral, jika pengetahuan sebelumnya dapat diterapkan di luar sekolah tanpa pengawasan dosen/guru, dan 2) sekuesial, jika yang dipelajari sekarang secara positif ada hubungannya dengan apa yang dipelajari di masa mendatang.
b. Transfer vertikal, jika pemahaman yang dipelajari sebelumnya dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang lebih sulit atau berada di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Chauman menerangkan beberapa teori yang melandasi adanya transfer :
a. Teori disiplin mental (mental discipline theory); Mental seseorang dapat dilatih seperti bagian badan yang lain. Caranya dengan mengulang materi yang sulit, kemampuan mental dapat ditingkatkan sehingga transfer terjadi secara otomatis melalui latihan tadi.
b. Teori unsur-unsur yang sama (identical elements); Sesuatu yang dipelajari dapat ditransfer ke situasi lain selama terdapat unsur-unsur yang identik pada kedua macam materi tersebut. Makin besar kesamaan, makin besar pula kemungkinan terjadinya transfer. Transfer yang disebabkan adanya unsur-unsur yang identik disebut juga transfer spesifik.
c. Teori generalisasi; Transfer terjadi jika mahasiswa/siswa sudah memahami prinsip umum, bukan yang bersifat spesifik. Penekanan pada intelegensi yang menyebabkan seseorang dapat memakai dan menerapkan pengetahuan tentang prinsip-prinsip dari situasi satu ke situasi lain.
d. Teori transposisi; Transfer terjadi karena persamaan persepsi antara situasi dengan apa yang ada dalam bentuk umum. Proses yang terjadi dalam transfer adalah 1) pengelompokan, reorganisasi, strukturisasi materi, 2) adanya hubungan dalam bentuk/ukuran, 3) adanya struktur dalam, 4) adanya proses berpikir yang konsisten
Dalam pengajaran, dosen/guru dapat menerapkan beberapa gagasan untuk meningkatkan transfer, antara lain :
a. Diusahakan mahasiswa/siswa telah menguasai materi sebelumnya
b. Menentukan apa yang akan ditransfer dengan analisis tugas (task analysis)
c. Menyajikan materi pelajaran secara teratur, 1) menurut hierarkhi belajar, 2) dari sederhana ke yang sulit, 3) atur kegiatan dari sederhana ke kompleks
d. Memberi kesempatan kepada mahasiswa/siswa latihan mentrasfer yang telah dipelajari dengan situasi sesungguhnya di luar kelas
e. Memberi kesempatan pada mahasiswa/siswa untuk merencanakan sendiri kesempatan untuk melaksanakan tugasnya.
f. Memberikan tugas yang serupa tapi tidak sama
g. Pelajaran yang diberikan merupakan sesuatu yang bermakna
h. Memberikan sebanyak mungkin situasi baru agar dapat mengadakan generalisasi tentang apa yang sudah dipelajarinya.
9. Kondisi Belajar
Kondisi belajar merupakan stimuli yang datang dari luar diri mahasiswa/ siswa. Kondisi ini merupakan masukan yang dapat menyebabkan adanya modifikasi tingkah laku sebagai akibat dari belajar. Menurut Gagne (1985) tingkah laku hasil belajar diklasifikasikan menjadi lima macam : a) ketrampilan intelektual, b) strategi kognitif, c) informasi verbal, d) ketrampilan motorik, e) sikap. Untuk mempelajari kelima hasil belajar tersebut diperlukan kondisi internal dan eksternal.
Kelima tingkah laku hasil belajar dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Ketrampilan intelektual
Merupakan hasil pendidikan formal, kemampuan dalam mentransformasikan simbol tertulis menjadi kata yang diucapkan, merubah pernyataan menjadi pertanyaan, konsep dalam memecahkan masalah, dsb.
Ketrampilan intelektual dibagi menjadi beberapa kategori bersifat hierarkhis, yaitu 1) diskriminasi, b) konsep, c) prinsip, d) pemecahan masalah. Kategori yang lebih mudah merupakan prasarat kategori berikutnya
Kondisi internal yang perlu dimiliki mahasiswa/siswa untuk mempelajari ketrampilan intelektual adalah 1) penguasaan ketrampilan yang lebih mudah sebelum ketrampilan berikutnya, dan 2) adanya proses yang dapat dipakai untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari.
Kondisi eksternal yang perlu dimanipulasi dosen/guru dalam mengajar ketrampilan intelektual adalah 1) hubungan antara yang dipelajari dengan Materi sebelumnya, 2) pemberian penguatan (renforcement), 3) informasi secara verbal atau demonstrasi, 4) pemberitahuan tenjang tujuan yang harus dicapai, dan 5) pemberian ulangan-ulangan.
b. Strategi kognitif
Merupakan kemampuan internal mahasiswa/siswa sebagai panduan dalam berpikir, belajar, memecahkan masalah yang baru sama sekali. Strategi kognitif merupakan tujuan utama pendidikan. Seorang mahasiswa/ siswa tidak hanya pandai memecahkan masalah tetapi juga mampu berpikir mandiri dan membuat keputusan berdasarkan apa yang telah dipelajari
Kondisi internal yang perlu dimiliki mahasiswa/siswa untuk belajar strategi kognitif adalah 1) mempunyai ketrampilan intelektual dalam memecahkan masalah, 2) mempunyai dasar dalam memecahkan masalah
Kondisi eksternal yang diperlukan adalah 1) mahasiswa/siswa perlu dihadapkan pada situasi yang sama sekali baru, 2) mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk berpikir.
c. Informasi verbal
Merupakan suatu komponen prasarat dalam usaha mempelajari kemampuan-kemampuan yang lain. Informasi verbal dapat dipelajari dalam bentuk oral maupun tertulis dan berkisar dari yang paling sederhana ke pengetahuan yang sangat kompleks.
Kondisi internal harus dipunyai mahasiswa/siswa adalah 1) informasi yang telah dipunyai sebelumnya yang dapat ditransfer ke dalam situasi baru, 2) pemahaman tentang arti kata-kata atau istilah, 3) struktur kognitif yang sudah dipelajari sebelumnya.
Kondisi eksternal yang perlu diberikan dosen/guru adalah 1) ringkasan pelajaran dalam bentuk berarti dan dapat menstimulasi struktur kognitif mahasiswa/siswa, 2) tujuan belajar yang harus dicapai, 3) meningkatkan/ mempertajam perbedaan-perbedaan, 4) mengadakan pegulangan.
d. Ketrampilan motorik
Merupakan hasil belajar yang berhubungan dengan gerakan otot dan pada umumnya merupakan salah satu tujuan utama pengajaran. Menurut Fitts (1968) tahap-tahap ketrampilan motorik adalah :
1) Kognitif; dengan tekanan kepada belajar mengenal petunjuk-petunjuk
2) Fiksasi; mulai mempelajari pola tingkah laku atau respons yang dikehendaki
3) Otonomi; kegiatan dilakukan secara otomatis dan ditandai dengan peningkatan kecepatan dan daya tahan terhadap ketegangan, kecemasan, atau gangguan dari kegiatan-kegiatan lain.
Kondisi internal yang perlu dimiliki mahasiswa/siswa dalam belajar ketrampilan motorik adalah 1) kemampuan untuk mengulang kembali ketrampilan yang sederhana, 2) kemampuan mengingat kembali pelaksanaan tingkah laku yang bersifat rutin.
Kondisi eksternal yang perlu dimanipulasi dosen/guru adalah 1) pemberian instruksi secara verbal, 2) penggunaan gambar baik gambar diam maupun gerak, 3) pemberian demonstrasi, 4) pemberian kesempatan pada mahasiswa/siswa untuk latihan atau praktek, 5) pemberian umpan balik.
e. Sikap
Keadaan internal seseorang yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya terhadap suatu objek atau kejadian di sekitarnya.
Komponen sikap adalah 1) kognitif, seseorang memerlukan konsistensi dalam tingkah lakunya; 2) efektif, berupa positip atau negatip; 3) tingkah laku, ditentukan oleh situasi pada suatu saat tertentu
Kondisi internal yang harus dimiliki mahasiswa dalam mempelajari sikap adalah 1) pengetahuan atau ketrampilan intelektual, 2) ketrampilan motorik, 3) rasa kagum atau respek terhadap orang yang memounyai sikap positip
Kondisi eksternal yang perlu dimanipulasi dosen/guru adalah 1) pengalaman emosional dalam melakukan sesuatu yang harus dipelajari, 2) model tentang apa yang harus dipelajari, 3) penguatan setiap kali mahasiswa/ siswa menunjukkan sikap yang diinginkan.
10. Tujuan Belajar
Merupakan komponen sistem pembelajaran yang sangat penting. Semua komponen yang ada dalam sistem pembelajaran harus bertolak dari tujuan belajar yang akan dicapai mahasiswa/siswa di dalam proses belajarnya.
Keuntungan adanya tujuan belajar yang dinyatakan secara spesifik dan eksplisit adalah :
a. Untuk mahasiswa/siswa; dapat 1) mengarahkan proses belajar, 2) mengukur sejauh mana mereka mencapai tujuan, 3) meningkatkan motivasi.
b. Untuk dosen/guru; dapat 1) memilih Materi, strategi instruksional, sumber belajar yang sesuai, 2) mengukur keberhasilan dosen/guru sendiri dalam proses pembelajaran.
Seorang dosen/guru perlu mengetahui kelemahan-kelemahan dan keterbatasan yang disebabkan oleh adanya tujuan belajar yang dinyatakan secara spesifik dan terperinci, yaitu :
a. Mahasiswa/siswa hanya belajar apa yang tertulis dalam tujuan belajar
b. Dosen/guru cenderung hanya mengajarkan apa yang tertulis dalam tujuan belajar
c. Banyak tujuan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk nyata sehingga tidak dicantumkan dalam proses pembelajaran, yaitu kawasan afektif
d. Seringkali tujuan bersifat artificial, dibuat agar dapat dilihat dan diukur
e. Dosen/guru maupun mahasiswa/siswa menjadi kurang kreatif dalam proses pembelajaran.
11. Umpan Balik
Dengan adanya umpan balik mahasiswa/siswa dapat mengerti sejauh mana penampilan mereka dibandingkan dengan tujuan belajar yang harus dicapai. Umpan balik member informasi tentang keberhasilan. Mahasiswa/siswa perlu diikutsertakan dalam prosedur pemberian umpan balik, misalnya dengan jalan memonitor diri sendiri, menilai diri sendiri, dan menentukan tujuan-tujuan belajarnya secara individual.
Worell&Stilwell (1981) memberi saran bagaimana dosen/guru dapat memanipulasi umpan balik untuk memperlancar proses belajar mengajar, yaitu :
a. Dosen/guru harus yakin kemampuan awal yang dutuhkan sudah dimiliki oleh mahasiswa/siswa sebelum memulai tugas barunya.
b. Umpan alik perlu diberikan secara teratur, jangan ditangguhkan
c. Bila mungkin member kesempatan kepada mahasiswa/siswa untuk mengontrol umpan balik yang diberikan
d. Dosen/guru member komentar yang bersifat memperbaiki
e. Sedapat mungkin dihindari sarkasme
f. Mahasiswa/siswa harus diberi dorongan untuk berusaha memperbaiki kesalahan
g. Dosen/guru memberi umpan balik verbal yang dapat memberikan insentif
h. Dosen/guru member umpan bali yang dapat membangkitkan motivasi.
C. Penutup
Demikian beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar. Apabila factor-faktor di atas dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya walaupun tidak seluruhnya, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai.


DAFTAR PUSTAKA
Toeti Soekamto dan Urip Saripudin W., 1996. Teori Belajar Dan Model-Model Pembelajaran., Jakarta : Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar